MAKALAH
Belajar Motorik Dasar
Koordinasi Gerak

Isan Rependi
1303054
Pendidikan Jasmani dan
Kesehatan
Fakultas Ilmu Keolahragaan
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013
KATA PENGANTAR
Segala
puji kami hanturkan kepada Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Berkat
rahmatnya penulis berhasil menyelesaikan makalah yang berjudul “Koordinasi Gerak” ini. Makalah ini disusun dalam rangka
menyelesaikan tugas perkuliahan mata kuliah Belajar Motorik Dasar.
Makalah
ini membahas tentang Ruang lingkup
kordinasi Gerak, dalam hal ini penulis lebih
merujuk kepada peserta didik ataupun anak-anak yang sedang menjalani masa
pendidikan. Selain itu, penulis juga membahas tentang Ciri-ciri koordinasi Gerak.
Penulis
menyadari bahwa, makalah ini masih jauh dari sempurna. Namun penulis akan terus
belajar dan mencoba memperbaiki hal-hal tersebut untuk perbaikan masa depan. Untuk itu, kritik dan
saran penulis harapkan demi perbaikan makalah ini pada masa mendatang
Semoga
Allah selalu menyertai dan meridhoi kita bersama, dalam upaya untuk ikut
mencerdaskan bangsa yang berakhlak terpuji. Amiin.
Padang, Oktober 2013
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR ................................................................................... 1
DAFTAR
ISI
................................................................................................. . 2
PENDAHULUAN
......................................................................................... 3
PEMBAHASAN ………………………………………………………........ 4
A. Pengertian
Koordinasi
....................................................................................................... 5
B.
Kebutuhan akan
koordinasi ………………………………................ 5
C. Koordinasi
Gerak
............................................................................... 6
D.
Ciri-Ciri Kordinasi …………………………………......................... 7
1.
Fase keterampilan
motorik tingkat pertama ................................. 7
2.
Fase keterampilan
motorik tingkat kedua ..................................... 9
3.
Fase keterampilan
motorik tingkat ketiga ...................................... 10
KESIMPULAN ..................................................................... ........................... 15
PENUTUP………………………………………………………..................... 16
DAFTAR
PUSTAKA ………………………………………………….......... 17
PENDAHULUAN
Koordinasi gerak dilihat sebagai pengatur terhadap
proses-proses motorik terutama terhadap kerja otot-otot yang diatur melalui
sistem persyarafan atau disebut dangan intra muskulare koordination.
Koordinasi gerak meliputi peng-koordinasian kerja otot-otot
yang terlibat dalam suatu pelaksanaan gerakan. pengkoordinasian tersebut diatur
sedemikian rupa oleh sistem persyarafan. Yang diatur disini adalah :penyesuaian
komponen-komponen kekuatan dan kecepatan yang dibutuhkan oleh otot dalam
pelaksanaan gerak sesuai dangan kebutuhan setiap bagian gerak.
Kebutuhan akan koordinasi tergantung pada
sifat dan kebutuhaan komunikasi dalam pelaksanaan tugas dan derajat saling
ketergantungan bermacam-macam satuan pelaksanaannya. Derajat kordinasi yang
tinggi ini sangat bermanfaat untuk pekerjaan yang tidak rutin dan tidak
dapat diperkirakan, faktor-faktor lingkungan selalu berubah-ubah serta saling
ketergantungan adalah tinggi.
Komunikasi adalah kunci koordinasi yang
efektif. Koordinasi secara langsung tergantung pada perolehan, penyebaran dan
pemprosesan informasi. Semakin besar ketidak pastian tugas yang dikoordinasi,
semakin membutuhkan informasi. Untuk alasan ini, koordinasi pada dasarnya
merupakan tugas pemprosesan informasi.
Dalam beberapa situasi adalah tidak efisien
untuk mengembangkan cara pengkoordinasian tambahan. Ini dapat dilakukan dengan
penyediaan tambahan sumber daya-sumber daya untuk satuan-satuan organisasi atau
penglompokan kembali satuan-satuan organisasi agar tugas-tugas dapat berdiri
sendiri.
A.
Pengertian Koordinasi
Koordinasi didefinisikan sebagai
proses pengintegrasian ( penyatuan ) tujuan dan kegiatan perusahaan pada satuan
yang terpisah dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara
efisien. Koordinasi dibutuhkan sekali oleh para karyawan, sebab tanpa
koordinasi setiap karyawan tidak mempunyai pegangan mana yang harus
diikuti, yang akhirnya akan merugikan organisasi itu sendiri.
Pedoman Koordinasi : Koordinasi
harus terpusat, sehingga ada unsur pengendalian guna menghindari tiap bagian
bergerak sendiri-sendiri yang merupakan kodrat yang telah ada dalam setiap bagian,
ingat bahwa organisasi merupakan kumpulan dari orang-orang yang punya kebutuhan
dan keinginan berbeda, Koordinasi harus terpadu, keterpaduan pekerjaan
menunjukkan keadaan yang saling mengisi dan memberi, Koordinasi harus
berkesinambungan, yaitu rangkaian kegiatan yang saling menyambung, selalu
terjadi, selalu diusahakan dan selalu ditegaskan adanya keterkaitan dengan kegiatan
sebelumnya, Koordinasi harus menggunakan pendekatan multi instansional, dengan wujud
saling memberikan informasi yang relevan untuk menghindarkan saling tumpang
tindih tugas yang satu dengan tugas yang lain.
B.
Kebutuhan akan Koordinasi
Kebutuhan
akan koordinasi tergantung pada sifat dan kebutuhaan komunikasi dalam
pelaksanaan tugas dan derajat saling ketergantungan bermacam-macam satuan
pelaksanaan tugas dan derajat saling ketergantungan bermacam-macam satuan
pelaksanaannya.
Derajat
koordinasi yang tinggi ini sangat bermanfaat untuk pekerjaan yang tidak rutin
dan tidak dapat diperkirakan, faktor-faktor lingkungan selalu
berubah-ubah serta saling ketergantungan adalah tinggi.
Menurut James D.Thompson,
ada tiga macam saling ketergantungan,yaitu :
1. Saling ketergantungan
yang menyatu (pooled interpendece),
Bila satuan-satuan
organisasi saling tergantung satu dengan yang lain dalam melaksanakan kegiatan
harian tetapi tergantung terhadap pelaksanaan kerja setiap satuan yang memuaskan
untuk suatu hasil akhir.
1. Saling ketergantungan
yang berurutan (sequential interdependece),
Dimana suatu satuan
oganisasi harus melakukan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum satuan
yang dapat bekerja.
1. Saling ketergantunagan
timbal balik (reciprocal interdepence)
Merupakan hubungan
memberi dan menerima antar satuan organisasi.
Kebutuhan koordinasi
saling ketergantungan yang menyatu lebih besar dari macam saling ketergantungan
yang lain.
C.
Koordinasi Gerak
Adalah hubungan timbal balik antara pusat susunan gerakan
dengan alat gerak dalam mengatur dan mengendalikan impuls tenaga dan kerja otot
serta proses-proses motorik yang terjadi untuk pelaksanaan gerakan.
Pengertian Koordinasi Gerak dari
sudut pandang Anatomi dan Fisiologi
Dari
sudut pandang fisiologi, Koordinasi gerak dilihat sebagai pengaturan terhadap
proses motorik terutama terhadap kerja otot-otot diatur melalui sistim
persyarafan. Dari definisi ini dapat ditarik suatu pengertian bahwa koordinasi gerak
meliputi pengkoordinasian kerja otot-otot yang terlibat dalam pelaksanaan suatu
gerakan.
Pengertian Koordinasi gerak dari sudut pandang Biomekanik
Pengertian
dari sudut pandang biomekanik lebih diarahkan pada penyesuaian antara pemberian
implus kekuatan pada otot dengan kebutuhan pada setiap gerakan.
Dari
sudut pandang diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa koordinasi gerak adalah
hubungan timbal balik antara pusat susunan syaraf dengan alat gerak dalam mengatur
dan mengendalikan impuls tenaga dan kerja otot serta proses-proses motorik yang
terjadi untuk pelaksanaan gerakan
-
Masalah-masalah Penca-paian Koordinasi yang
efektif
Paul R. Lawrence dan
Jay W.Lorch telah mengemukkan empat tipe, yaitu:
- Perbedaan dalam orientasi terhadap tujuan tertentu.
Bagian penjualan
mengangap bahwa diverifikasi produk harus lebih diutamakan dari pada kualitas
produk. Bagian akuntansi melihat pengendalian biaya sebagai faktor paling
penting sukses organisasi. Bagian pemasaran mengemukkan desain produk sebagai
yang paling esensial.
- Perbedaan dalam orientasi waktu
Manajemen produksi
akan lebih memperhatikan masalah-masalah yang harus di pecahkan segera
atau dalam periode waktu pendek. Bagian penelitian dan pengembangan lebih
terlibat dengan masalah-masalah jangka panjang.
- Perbedaan dalam orientasi antar pribadi.
Kegiatan produksi
memerlukan komunikasi dan pembuatan keputusan yang cepat agar prosesnya lancar,
sedang bagian penelitian dan pengembangan mungkin dapat lebih dan setiap orang
dapat mengemukakan pendapat serta berdiskusi satu dengan yang lain.
- Perbedaan dalam formalitas struktur.
Setiap tipe satuan
dalam organisasi mungkin mempunyai metode-metode dan standar-standar yang
berbeda untuk mengevaluasi program terhadap tujuan dan untuk balas jasa bagi
karyawan. Dalam departemen produksi dimana kuantitas dan kualitas diawasi
secara ketat, proses evaluasi dan balas jasa dilakukan formal. Dalam departemen
personalia standar pelaksanan dapat lebih longgar, dimana karyawan dievaluasi
kuailitas kerjanya selama periode waktu tertentu.
-
Pendekatan-pendekatan untuk mencapai
koordinasi yang efektif
Komunikasi adalah
kunci koordinasi yang efektif. Koordinasi secara langsung tergantung pada
perolehan, penyebaran dan pemprosesan informasi. Semakin besar ketidak pastian
tugas yang dikoordinasi, semakin membutuhkan informasi. Untuk alasan ini,
koordinasi pada dasarnya merupakan tugas pemprosesan informasi.
Ada tiga pendekatan
untuk pencapaian koordinasi yang efektif, yaitu :
1. Pertama, hanya
mempergunakan teknik-teknik manajemen dasar: hirarki manajerial, rencana dan
tujuan sebagai pengarah umum kegiatan-kegiatan serta aturan-aturan dan
prosedur-prosedur. Organisasi yang relatif sederhana tidak memerlukan peralatan
koordinasi lebih dari tekni-teknik tersebut.
2. Pendekatan kedua,
menjadi di perlukan bila bermacam-macam saruan organisasi menjadi lebih saling
tergantung dan lebih luas dalam ukuran dan fungsi.
3. Pendekatan ketiga, disamping
peningkatan koordinasi potensial, mengurangi kebutuhan akan koordinasi. Dalam
beberapa situasi adalah tidak efisiensi untuk mengembangkan cara
pengkoordinasian tambahan. Ini dapat dilakukan dengan penyediaan tambahan
sumber daya untuk satuan organisasi atau pengelompokkan kembali satuan-satuan
organisasi agar tugas-tugas dapat berdiri sendiri.
D.
Ciri-Ciri Koordinasi
FASE KETERAMPILAN MOTORIK TINGKAT
PERTAMA
- Fase belajar motorik adalah suatu fase yang manggambarkan keadaan penguasaan keterampilan motorik seseorang dalam dalam melaksanakan gerakan-gerakan olahraga.
Kemampuan
seseorang untuk dapat menguasai keterampilan-keterampilan motorik olahraga
berbeda-beda, yang disebabkan oleh antara lain :
·
Perbedaan kemampuan kondisi dan koordinasi yang dimiliki
·
Perbedaan usia
·
Perbedaan pengalaman gerakan
·
Perbedaan jenis kelamin
·
Perbedaan kognitif,
·
Frekwensi latihan dan sebagainya
Pembagian
fase-fase belajar motorik bukan berdasarkan pada tingkat usia, melainkan pada
tingkat kemampuan seseorang dalam penguasaan keterampilan-keterampilan motorik
olahraga dalam melaksanakan gerakan-gerakan.
- Ciri-ciri umum kemampuan fase belajar motorik tingkat pertama
Ciri-ciri
umum fase belajar motorik tingkat pertama adalah penguasaan kemampuan motorik
dalam bentuk kasar, seseorang yang berada pada fase ini hanya mampu
melaksanakan gerakan-gerakan yang dituntut bila situasi dan kondisi mendukung.
- Ciri-ciri khusus atau yang banyak dilihat.
- Struktur dasar gerakan tersebut diperlihatkan dalam bentuk yang kasar.
- Irama gerakan :
Kesalahan
dalam irama gerakan disebabkan oleh:
1.
Individu yang belajar belum memiliki pengalaman dan simpanan
2.
Belum dapat mengatur dan mengimpulskan tenaga sesuai dengan kebutuhan otot-otot
yang bekerja.
- Hubungan gerakan
Hubungan
gerakan dari bagian-bagian grerakan dari satu anggota tubuh ke anggota tubuh
yang lain masih belum ter-koordinir dengan baik.
- Luas gerakan
Disebabkan karana kemampuan
koordinasinya yang memang masih belum terbentuk, dengan demikian prinsip
efisiensi dan efektifitas baik dari segi tenaga, waktu dan ruangan yang
terpakai belum dapat direalisasikan.
- Kelancaran gerakan /aliran gerakan
Aliran
gerakan yang ditampilkan masih belum lancar, yaitu masih tersendat-sendat. kurangnya
kecepatan dan percepatan tersebut disebabkan karena pengaruh impuls/tenaga yang
diberikan.
- Kecepatan gerakan
Belum
memiliki kecepatan gerakan yang baik yaitu masih bersifat lamban dan kaku.
- Ketepatan dan kekonstanan gerakan
Kekonstanan
gerakan yang dimiliki oleh individu yang berada pada fase tingkat pertama ini
boleh dikatakan tidak ada karena kemampuan yang dimiliki belum stabil atau
belum dapat diukur.
- Bayangan gerakan
Bayangan
gerakan yang berhasil dibangun oleh individu yang berada pada fase tingkat
pertama masih kurang lengkap
- Program gerakan
Artinya
program gerakan baru memuat komponen-komponen gerakan yang bersifat umum atau
yang penting-penting sajalan belum terperinci.
Ciri-ciri kemampuan penerimaan dan
pengolahan informasi fase belajar tingkat pertama. Ciri-ciri pada fase belajar tingkat
pertama dapat dilihat pada aspek penerimaan dan pengolahan informasi. Dalam
pelaksanaan aksi-aksi motorik atau gerakan-gerakan olahraga ada 5 indra
penerima informasi yaitu : visual (penglihatan), akustik (penalaran), taktil
(kulit), kinestik (otot), dan vetibular (alat keseimbangan).
Kelima indra itu tidak hanya berperan dalam penerimaan
informasi tetapi juga berperan dalam penerimaan feedback, yaitu tentang gerakan
yang sedang berlansung.
Berdasarkan feedback ini dapat dilakukan pengendalian dan
pengaturan-pengaturan gerakan-gerakan yang sedang dilakukan misalnya: pengaturan
tentang impuls-impuls kekuatan, pengaturan, dan pengendalian arah gerakan.
-
Implikasi ciri-ciri fase belajar
motorik tingkat pertama ke dalam proses pembelajaran
peran
guru pendidikan jasmani sangat lah menentukan pada keberkasilan peserta didik
dalam melakukan gerakan yang diajarkan.
FASE BELAJAR KETERAMPILAN MOTORIK
OLAHRAGA TINGKAT KE DUA
a. Ciri-ciri
umum fase belajar motorik tingkat kedua ini adalah peningkatan penguasaan kemampuan koordinasi
secara halus, yaitu kualitas gerakan yang dilakukan sudah meningkat. Perkembangan
proses belajar pada fase ini di tandai oleh beberapa kemajuan dan diwarnai oleh
beberapa permasalahan. kemajuan-kemajuan yang diproleh antara lain dapat
dilihat dari semakin meningkatnya kualitas gerakan.
-
Ciri-ciri khusus fase belajar
motorik tingkat kedua
- Struktur dasar gerakan
- Irama gerakan
- Hubungan gerakan
- Luas gerakan
- Kelancaran gerakan
- Kecepatan gerakan
- Ketepatan dan kekonstanan gerakan
- Bayangan dan program gerakan
-
Ciri-ciri kemampuan penerimaan dan
pengolahan informasi fase belajar tingkat kedua
Dalam
belajar motorik ada lima indera penerima informasi antara lain :
1.
Mata ( Visueller Analisator )
2.
Kulit ( Taktiler Analisator )
3.
Otot-otot ( Kinesthetischer Analisator )
4.
Telinga ( Akusticher Analisator )
5.
Alat keseimbangan yang terletak pada bagian dalam telinga (
Statico dynamisator )
Kelima
indera penerima informasi tersebut dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu :
1.
Alat penerima informasi dari luar
Yaitu
informasi yang datang dari luar atau dari lingkungan si pelaku gerakan itu
sendiri. Diantaranya : mata, telinga dan kulit.
2.
Alat penerima informasi dari bagian dalam
Yaitu
informasi yang berasal dari dalam diri si pelaku gerakan itu sendiri tentang
jalannya gerakan baik yang sedang berlangsung. Diantaranya : otot-otot dan
staticodynamisator.
Ciri-ciri fase belajar motorik tingkat kedua dan
implikasinya kedalam proses pembelajaran
Fase
belajar tingkat kedua menuntut aktifitas belajar yang tinggi, untuk dapat
melaksanakannya dibutuhkan persiapan-persiapan yang tinggi dari peserta didik. kesiapan
yang dimaksud antara lain:
·
Kesiapan dalam melakukan pengulangan-pengulangan latihan
·
Kesiapan dalam menerima beban kerja fisik
·
Kesiapan untuk berkonsentrasi penuh
·
Serta kesiapan untuk turut aktif dalam proses berfikir
Jadi
tugas utama dari guru pendidikan jasmani dalam hal ini adalah melakukan
analisis kesalahan-kasalahan gerakan yang terjadi pada setiap fase gerakan. sehingga
peserta didik akan selalu melakukan pengendalian dan pengaturan kembali
penyimpangan-penyimpangan yang terjadi selama gerakan itu berlansung.
FASE BELAJAR KETERAMPILAN MOTORIK
OLAHRAGA TINGKAT KETIGA
- Ciri-ciri umum fase belajar motorik tingkat ketiga
Ciri-ciri
umum fase belajar tingkat ketiga dapat digambarkan sebagai berikut:
Kemampuan
prestasi seseorang yang berada pada fase belajar tingkat ketiga lebih
stabil,dan kestabilan prestasi tersebut dapat dilakukan dengan konstan, walaupun
dibawah situasi dan kondisi tempat palaksanaan gerakan yang dipersulit.
Peningkatan
yang terjadi dalam berbagai aspek antara lain :
- Perbaikan dalam mengantisipasi suatu situasi dan kondisi
- Perbaikan peran analisator kinentetik,sehingga dapat mengendalikan dan mengatur impuls-impuls tenaga pada otot-otot yang bekerja sesuai dengan kebutuhan
- Perbaikan peran dan fungsi indra penerima informasi
- Perbaikan-perbaikan dalam pengolahan informasi yang diterima.
Ciri
umum berikutnya pada fase belajar tingkat ketiga kestabilan prestasi atau untuk
kerja, individu yang berada pada fase ini mampu melakukan gerakan-gerakan yang
sama secara berulang-ulang, sedangkan kualitas gerakan yang ditampilkan pada
setiap kali pengulangan cukup konstan.
- Ciri-ciri khusus fase belajar motorik tingkat ketiga
Terbentuknya kemampuan
automatisasi
Bayangan dan konstruksi
bayangan gerakan
-
Irama
gerakan
Pada
fase belajar tingkat ketiga ini pelaksanan gerakan terlihat semakin mulus dan
lancar, sehingga gerakan-gerakan yang dilakukan cukup efesien dan efektif baik
dalam hal pemakaian ruangan, maupun waktu dan tenaga.
-
Kecepatan
gerakan
Keistimewaan
khusus yang dimiliki pada fese belajar tingkat ketiga adalah kemampuannya untuk
memanipulasi bentuk-bentuk gerakan. kemampuan untuk melakukan gerak tipu yang
tepat hanya dapat dilakukan oleh individu yang memiliki kemampuan antisipasi
situasi dan kondisi yang akurat.
Ciri-ciri kemampuan penerimaan dan
pengolahan informasi fase belajar tingkat ketiga
Ciri-ciri
khusus kemampuan penerimaan dan pengolahan informasi individu yang berada pada
fase belajar tingkat ketiga adalah semakin meningkatnya peran dan fungsi
analisator informasi kinestetik(otot).
Ciri-ciri lain dari kemampuan penerimaan dan pengolahan
informasi fase belajar tingkat ketiga ditandai dengan semakin meningkatnya
peran dan fungsi serta kepekaan alat-alat analisator yang lain seperti: mata,
kulit, telinga (staticodynamisator), maka individu yang berada pada fase ini
dapat menerima umpan balik secara lebih banyak dan rinci tentang jalannya suatu
gerakan baik yang sedang berlansung, maupun yang baru selesai dilaksanakan.
Ciri-ciri fase belajar motorik
tingkat ketiga dan implikasinya kedalam proses pembelajaran. Fase belajar tingkat ketiga merupakan
suatu fase untuk menstabilkan kemampuan koordinasi halus yang telah dikuasai.
Bentuk latihan lain yang dapat diterapkan dalam proses
pembelajaran untuk peserta didik yang berada pada fase ini adalah latihan dalam
bentuk mental-traning.
Latihan-latihan
mental akan dapat membantu peserta didik dalam meningkatkan:
-
Kemampuan mengantisipasi perubahan situasi yang akan terjadi
dan efek dari perubahan tersebut
-
Kemampuan ketetapan gerakan
-
Kemampuan melaksanakan gerakan secara ekonomis, baik dari
segi waktu, tenaga, maupun ruangan yang dipakai
-
Kemampuam ketetapan pengambilan keputusan
- Struktur dasar gerakan
Kata struktur diartikan secara sederhana sebagai suatu
susunan tertentu maka struktur garak dapat diartikan sebagai strukur gerakan atau
dapat diterjemahkan sebagai susunan dasar dari suatu gerakan atau susunan yang
selalu ada dalam pelaksanaan suatu gerakan.
- Irama gerakan
Irama
gerak adalah ciri-ciri yang menggambarkan ketepatan antara pelaksanaan
bagian-bagian gerak dengan dimensi ruang dan waktu yang digunakan atau yang
diperlukan pada setiap gerakan.
Untuk
mendapatkan kemampuan irama gerakan yang baik, pada dasarnya harus dilakukan
latihan-latihan secara berulang-ulang terhadap bentuk-bentuk gerakan yang sama
- Hubungan gerakan
Hubungan
gerakan adalah: suatu proses transfer
impuls tenaga dari suatu bagian tubuh
yang lain atau proses transfer impuls dari suatu alat gerak ke alat gerak lain.
sehingga terjadi hubungan gerakan.
Indikator
yang dapat diamati dari hubungan gerakan yang tidak sempurna adalah :
·
Terjadinya kelebihan gerakan yang tidak diperlukan yang
mengakibatkan terganggunya transfer impuls tenaga untuk gerakan
·
Kelebihan gerakan tersebut diakibatkan oleh impuls tenaga
yang diberikan terlalu besar dari yang dibutuhkan.
·
Luas gerakan
Luas
gerakan adalah : luasnya ruangan atau lintasan yang terpakai dalam pelaksanaan
suatu gerakan.
Indikator-indikator
yang dapat diamati untuk mengetahui kesalahan luas gerakan antara lain :
·
Pemakaian luas gerakan untuk pelaksanaan suatu gerakan tidak
stabil
·
Frekwensi gerakan yang terlalu rendah dapat disebabkan
karena ruangan yang terpakai untuk pelaksanaan suatu gerakan terlalu luas, sehingga
waktu yang dibutuhkan juga berlebih dari yang semestinya
·
Frekwensi gerakan yang terlalu tinggi misalnya dalam berlari
atau berenang dapat disebabkan oleh ruangan yang terpakai terlalu sempit
·
Irama gerakan tidak konstan
Kelancaran gerakan
Penyebab
kesalahan gerakan atau tidak lancarnya gerakan adalah : kemampuan kondisi
(kekuatan, kecepatan, dan daya tahan) dan kemampuan koordinasi yang masih
kurang, serta ketidak lengkapan, ketidak mengertian individu terhadap informasi
tentang gerakan yang harus dalaksanakan.
Kelancaran
gerakan atau aliran gerakan adalah suatu ciri-ciri yang menggambarkan
kontinuitas dari jalannya suatu gerakan.
Untuk
dapat melihat kelancaran gerakan, indikator yang dapat diamati adalah :
·
Kontinuitas jalannya gerakan
·
Kecepatan atau percepatan gerakan (terlalu cepat atau terlalu lambat)
- Kecepatan gerakan
Dalam
pelaksanan suatu gerakan, kecepatan merupakan salah satu ciri-ciri koordinasi
gerakan yang perlu mendapatkan perhatian, hal ini disebabkan karena kecepatan
sangat menentukan hasil yang ingin dicapai.
Untuk
dapat memanfaatkan kecepatan gerakan secara optimal memang sangat dipengaruhi
oleh beberapa aspek seperti : kemampuan mengantisipasi gerakan, kelancaran
gerakan dan hubungan gerakan.
- Ketepatan dan kekonstanan gerakan
Ketepatan
dan kekonstanan gerakan sangat menentukan sekali terhadap hasil yang ingin
dicapai dalam pelaksanaan gerakan.
Ketepatan
gerakan dalam artian proses adalah : ketepatan jalannya suatu rangkaian gerakan
baik dilihat dari struktur dalam gerakan maupun dilihat dari sistematika
gerakan.
Sedangkan
ketetapan produk adalah : suatu hasil yang diperoleh dari aktivfitas atau gerakan.
KESIMPULAN
Koordinasi didefinisikan sebagai
proses pengintegrasian ( penyatuan ) tujuan dan kegiatan perusahaan pada satuan
yang terpisah dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara
efisien.
Koordinasi Gerak Adalah hubungan timbal balik antara
pusat susunan gerakan dengan alat gerak dalam mengatur dan mengendalikan impuls
tenaga dan kerja otot serta proses-proses motorik yang terjadi untuk
pelaksanaan gerakan.
Fase belajar motorik tingkat pertama adalah penguasaan
kemampuan motorik dalam bentuk kasar, seseorang yang berada pada fase ini hanya
mampu melaksanakan gerakan-gerakan yang dituntut bila situasi dan kondisi
mendukung.
Fase belajar motorik tingkat
kedua ini adalah peningkatan penguasaan kemampuan koordinasi secara halus, yaitu
kualitas gerakan yang dilakukan sudah meningkat.
Fase belajar motorik tingkat
ketiga adalah Kemampuan
prestasi seseorang yang berada pada fase belajar tingkat ketiga lebih stabil, dan
kestabilan prestasi tersebut dapat dilakukan dengan konstan, walaupun dibawah
situasi dan kondisi tempat palaksanaan gerakan yang dipersulit.
PENUTUP
Syukur
Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah
SWT yang telah memberikan kekuatan dan nikmat-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah ini. Makalah ini di buat dengan segala kemampuan yang ada
pada saya dan dengan rasa tawakal kepada-Mu ya rabbi. Penyusun menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan.
Tiada lain selain untaian kata harapan, semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi penyusun, pembaca, dan bagi instansi terkait.
Akhirnya
penyusun hanya dapat mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu, terutama dosen mata kuliah Belajar Motorik Dasar yang telah
memberikan arahan dan bimbingan sehingga
sangat membantu dapat menyelesaikan makalah ini.
Dan
semoga makalah ini bermanfaat untuk kita semua. Amiiiin ..
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar