MAKALAH
Belajar Motorik Dasar
TENTANG BELAJAR

Isan Rependi
1303054
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
Fakultas Ilmu Keolahragaan
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013
KATA PENGANTAR
Segala puji kami hanturkan kepada Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Berkat rahmatnya penulis berhasil menyelesaikan makalah yang berjudul “Tentang Belajar” ini. Makalah ini disusun dalam rangka menyelesaikan tugas perkuliahan mata kuliah Belajar Motorik Dasar.
Makalah ini membahas Tentang Definisi Belajar dan Gerak dalam Proses Belajar Mengajar, dalam hal ini penulis lebih merujuk kepada peserta didik ataupun anak-anak yang sedang menjalani masa pendidikan. Selain itu, penulis juga membahas tentang Bagaimana Ciri-ciri dan Identifikasi belajar siswa.
Penulis menyadari bahwa, makalah ini masih jauh dari sempurna. Namun penulis akan terus belajar dan mencoba memperbaiki hal-hal tersebut untuk perbaikan masa depan. Untuk itu, kritik dan saran penulis harapkan demi perbaikan makalah ini pada masa mendatang
Semoga Allah selalu menyertai dan meridhoi kita bersama, dalam upaya untuk ikut mencerdaskan bangsa yang berakhlak terpuji. Amiin.
Padang, Oktober 2013
Penulis
DAFTAR ISI
1. KATA PENGANTAR ................................................................................. 1
2. DAFTAR ISI ............................................................................................... 2
3. PENDAHULUAN ...................................................................................... 3
4. RUMUSAN MASALAH ………………………………………………… 4
5. TUJUAN ………………………………………………………………….. 5
6. PEMBAHASAN …………………………………………………………. 6
a) Definisi belajar secara umum ……………………………………… 6
b) Definisi belajar Gerak ……………………………………………… 7
c) Ciri-ciri dan Identifikasi belajar …………………………………… 7
d) Cara mengetahui hasil belajar ……………………………………... 8
e) Kurva-kurva belajar ………………………………………………... 9
f) Gejala Platue ……………………………………………………….. 9
7. PENUTUP………………………………………………………………….. 10
a. Kesimpulan ……………………………………………………………... 10
b. Saran ……………………………………………………………………. 10
8. DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………… 11
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Ada berbagai rumusan yang dikemukakan orang dalam upaya menjawab pertanyaan dengan melihat pendidikan dari salah satu aspek kehidupan tertentu atau kacamata disiplin keilmuan tertentu. Misalnya pandangan sosiologi melihat pendidikan dari aspek sosial antara lain mengartikan bahwa “Pendidikan adalah sebagai usaha mentransformasikan pengetahuan dari generasi ke generasi” (Ishak, 2005:27). Pandangan lain dilihat dari aspek budaya menyebutkan bahwa pendidikan itu adalah sebagai usaha pemindahan pengetahuan dan nilai – nilai kepada generasi berikutnya. Sedangkan pandangan Psikologik melihat pendidikan dari aspek tingkah laku individu, antara lain mengartikan pendidikan sebagai perkembangan kapasitas individu secara optimal.
Pandangan dari sudut ekonomi antara lain melihat bahwa pendidikan itu adalah sebagai usaha penanaman modal insan (Human Investmen), dan yang terakhir dilihat dari sudut pandang politik antara lain melihatnya sebagai pembinaan usaha kader bangsa.
Dari uraian diatas kita dapat menarik benang merahnya bahwa pendidikan itu adalah suatu kebutuhan yang akan menjamin kelangsungan hidup bagi setiap manusia. Hal ini telah terbukti dengan adanya proses dari pendidikan itu sendiri dimana pada masa sekarang ini, seseorang yang berpendidikan akan memegang peranan penting dalam setiap aspek kehidupan dalam masyarakat.
Nah, untuk mendukung hal tersebut tentunya diperlukan pelajaran sebagai penunjang dalam meraih cita-cita untuk masa depan. Akan tetapi, banyak diantara kita yang menganggap pelajaran sebagai suatu kewajiban dan bukan sebuah kebutuhan, karena persepsinya akan berbeda antara kebutuhan dan kewajiban kalau kewajiban harus dilaksanakan seperti yang harus dilakukan oleh orang tua demi masa depan anaknya. Tapi selain itu orang tua juga harus menanamkan bahwa belajar itu sebuah kebutuhan bagi seorang anak.
Masalahnya apakah si anak paham akan pentingnya nilai sebuah pembelajaran? apakah si anak paham akan artinya belajar? sebuah kata kata mutiara menyebutkan Belajarlah dari Ayunan sampai ke liang lahat. Secara tidak langsung kita dituntut untuk belajar dari kecil sampai tua. Dan belajar itu tidak hanya dengan mengenyam pendidikan umum disekolah. Tapi juga bisa dengan mengambil hikmah dari pengalaman.
Masalahnya apakah si anak paham akan pentingnya nilai sebuah pembelajaran? apakah si anak paham akan artinya belajar? sebuah kata kata mutiara menyebutkan Belajarlah dari Ayunan sampai ke liang lahat. Secara tidak langsung kita dituntut untuk belajar dari kecil sampai tua. Dan belajar itu tidak hanya dengan mengenyam pendidikan umum disekolah. Tapi juga bisa dengan mengambil hikmah dari pengalaman.
Dalam makalah yang akan kami paparkan kali ini yaitu mengenai Pentingnya Belajar yang nantinya akan memotivasi diri kita dalam menumbuhkan rasa semangat untuk belajar.
B. RUMUSAN MASALAH
Sesuai dengan apa yang kita sampaikan sebelumnya bahwa makalah ini akan membahas tentang Belajar Sangat Penting, maka yang akan menjadi rumusan masalahnya kali ini yaitu :
1. Definisi Belajar Secara Umum
2. Definisi Belajar Gerak
3. Ciri-ciri dan Identifikasi belajar
4. Cara mengetahui hasil belajar
5. Kurva-kurva belajar
6. Gejala Platue
C. TUJUAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah agar peserta didik mampu dan mengerti akan tugasnya sebagai seorang pelajar yang pada akhirnya akan menjadi penerus bangsa dengan memperhatikan beberapa prinsip yang akan membantu dalam proses belajar dan bagaimana memotivasi diri untuk tekun belajar karena belajar sangat penting dalam kehidupan kita.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Belajar Secara Umum
Secara umum kegiatan belajar adalah suatu proses kegiatan dari tidak tahu, tidak mengerti, tidak bisa menjadi tahu, mengerti dan bisa secara optimal. Berikut beberapa definisi belajar menurut beberapa ahli psikologi.
Arno F. Wittig dalam Psychology of Learning: 1981. Belajar ialah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam tingkah laku suatu organisme sebagai hasil belajar.
James Patrick Chaplin dalam Dictionary of Psychology: 1985. Belajar dibatasi dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan kedua Belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus.
Hintzman, Douglas L. dalam The Psychology of Learning and Memory: 1987. Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme, manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.
John Burville Biggs dalam Teaching for learning: the view from cognitive psychology: 1991. Belajar mempunyai tiga macam rumusan, yaitu :
- Rumusan kuantitatif, belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa.
- Rumusan institusional, belajar dipandang sebagai proses validasi (pengabsahan) terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti institusional yang menunjukkan siswa telah belajar dapat diketahui dalam hubungannya dengan proses mengajar. Ukurannya ialah, semakin baik mutu mengajar yang dilakukan guru maka akan semakin baik pula mutu perolehan siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor atau nilai.
- Rumusan kualitatif, ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa.
Arthur S. Reber, Rhianon Allen, Emily Sarah Reber dalam The Penguin Dictionary of Psychology: edisi 1986, 1995, 2001. Belajar dengan dua macam definisi.
- Pertama, belajar adalah : proses memperoleh pengetahuan. Pengertian ini biasanya lebih sering dipakai dalam pembahasan psikologi kognitif yang oleh sebagian ahli dipandang kurang representatif karena tidak mengikutsertakan perolehan ketrampilan non kognitif.
- Kedua, belajar adalah suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif selamanya sebagai hasil latihan yang diperkuat. Dalam definisi ini terdapat empat macam istilah yang esensial dan perlu disoroti untuk memahami proses belajar yaitu: relatively permanent, response potentiality, reinforced dan practice.
B. Definisi Belajar Gerak
Pengertian belajar gerak pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan pengertian belajar secara umum. Berikut adalah beberapa penjelasan belajar gerak menurut para ahli :
1. Schmidt ( 1991 ) menjelaskan bahwa pembelajaran gerak adalah serangkaian proses yang dihubungkan dengan latihan atau pengalaman yang mengarah pada perubahan – perubahan yang relative permanen dalam kemampuan seseorang untuk menampilkan gerakan – gerakan yang terampil.
2. Oxendine ( 1984 ) menjelaskan bahwa belajar gerak adalah suatu proses perubahan perilaku gerak yang relatif permanen sebagai hasil dari latihan dan pengalaman.
3. Rahantoknam ( 1988 ) menjelaskan bahwa belajar gerak adalah proses peningkatan suatu keterampilan gerak yang disebabkan oleh kondisi latihan atau diperoleh dari pengalaman, bukan karena kondisi maturasi atau motivasi temporer dan fluktuasi fisiologis.
Dari gambaran diatas diambil kesimpulan bahwa belajar gerak adalah suatu rangkaian proses perubahan perilaku gerak yang relatif permanen yang diperoleh dari hasil pengalaman dan latihan untuk menampilkan gerakan yang terampil dan benar.
1. Schmidt ( 1991 ) menjelaskan bahwa pembelajaran gerak adalah serangkaian proses yang dihubungkan dengan latihan atau pengalaman yang mengarah pada perubahan – perubahan yang relative permanen dalam kemampuan seseorang untuk menampilkan gerakan – gerakan yang terampil.
2. Oxendine ( 1984 ) menjelaskan bahwa belajar gerak adalah suatu proses perubahan perilaku gerak yang relatif permanen sebagai hasil dari latihan dan pengalaman.
3. Rahantoknam ( 1988 ) menjelaskan bahwa belajar gerak adalah proses peningkatan suatu keterampilan gerak yang disebabkan oleh kondisi latihan atau diperoleh dari pengalaman, bukan karena kondisi maturasi atau motivasi temporer dan fluktuasi fisiologis.
Dari gambaran diatas diambil kesimpulan bahwa belajar gerak adalah suatu rangkaian proses perubahan perilaku gerak yang relatif permanen yang diperoleh dari hasil pengalaman dan latihan untuk menampilkan gerakan yang terampil dan benar.
C. Ciri-ciri dan Identifikasi belajar
Belajar memiliki ciri-ciri belajar diantaranya, perubahan yang terjadi secara
sadar, perubahan dalam belajar bersifat fungsional, perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif, perubahan dalam belajar tidak bersifat sementara, perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, perubahan mencakup seluruh aspektingkah laku. Sesuai dengan aliran humanis, menyatakan bahwa setiap orang menentukan sendiri tingkah laku mereka. Siapa saja bebas memilih sesuai dengan kebutuhan masing-masing dan tidak terikat pada lingkungan. Tujuan pendidikan adalah untuk membantu masing-masing orang untuk mengenal dirinya sendiri sebagai manusia yang unik dan menolongnya dalam mewujudkan potensi-potensi pada diri mereka.
Menurut pandangan serta teori konstruktivisme belajar merupakan proses aktif dari pelajar untuk merekonstruksi makna, mengikuti tes, aktifitas dialog, pengalaman fisik serta lain sebagainya.
Menurut pandangan serta teori konstruktivisme belajar merupakan proses aktif dari pelajar untuk merekonstruksi makna, mengikuti tes, aktifitas dialog, pengalaman fisik serta lain sebagainya.
Ciri-ciri belajar atau prinsip dalam belajar :
· Belajar mencari makna
· Kontruksi makna
· Pengembangan pikiran
· Pengalaman subyek belajar
· Hasil belajar tergantung apa yang di ketahui pelajar.
Identifikasi kesulitan belajar :
· masa kanak-kanak dianggap sebagai penembus masa kedewasaan, dimana semua kebutuhan anak ditentukan secara sepihak oleh orang dewasa
· sifat-sifat moral baik diajarkan, pola berpikir dididik, dan kekayaan budaya ditanamkan dengan model orang dewasa memahaminya
· anak harus bekerja sebagaimana orang dewasa bekerja, dan
· keteraturan internal anak didektekan dari luar atau atas kehendak orang dewasa.
D. Cara mengetahui hasil belajar
Cara mengukur prestasi belajar yang selama ini digunakan adalah dengan mengukur tes-tes, yang biasa disebut dengan ulangan. Tes dibagi menjadi dua yaitu: tes formatif dan tes sumatif. Tes formatif adalah tes yang diadakan sebelum atau selama pelajaran berlangsung, sedangkan tes sumatif adalah tes yang diselenggarakan pada saat keseluruhan kegiatan belajar mengajar, tes sumatifmerupakan ujian akkhir semester.
Menurut Suharsimi Arikunto dalam bukunya Evaluasi Pendidikan (1986: 26) menyebutkan “ Tes dibedakan menjadi tiga macam yaitu tes diagnostik, tes formatif, tes sumative”
- Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk menentukan kelemahan dan kelebihan siswa dengan melihat gejala-gejalanya sehingga diketahui kelemahan dan kelebihan tersebut pada siswa dapat dilakukan perlakuan yang tepat.
2. Tes formatif adalah untuk mengetahui sejauh mana siswa telah memahami suatu satuan pelajaran tertentu. Tes ini diberikan sebagai usaha memperbaiki proses belajar.
3. Tes sumatif dapat digunakan pada ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada akhir catur wulan atau semester. Dari tes sumatif inilah prestasi belajar siswa diketahui. Dalam penelitian ini evaluasi yang digunakan adalah dalam jenis yang di titik beratkan pada evaluasi belajar siswa di sekolah yang dilaksanakan oleh guru untuk mengetahui prestasi belajar siswa.
E. Kurva-kurva belajar
kurva yang menggambarkan perkembangan kemajuan belajar, baik disebabkan oleh proses kemajuan dalam belajar maupun disebabkan oleh pelatihan ...
Kurva belajar (learning curve) adalah sebuah grafik yang menggambarkan hubungan antara tingkat penguasaaan pengetahuan atau keterampilan dan waktu yang dihabiskan untuk memperolehnya.

F. Gejala Platue
Fraktur tibia plateau disebabkan oleh kekuatan varus atau valgus bersama sama dengan pembebanan aksial (kekuatan valgus saja mungkin hanya merobekan ligament).
Keadaan ini kadang kadang akibat pejalan kaki tertabrak mobil (fraktur bemper). Biasanya ini akibat jatuh dari ketinggian dimana lutut dipaksa masuk dalam valgus atau varus.kondilus tibia remuk atau terbelah oleh kondilus femur yang berlawanan,yang tetap utuh. Pasien biasanya berumur antara 50 dan 60 tahun dan sedikit mengalami osteoporosis,tetapi fraktur dapat terjadi pada orang dewasa pada setiap umur.
Dalam perencanaan terapi,perlu diketahui terlebih tipe frakurnya,yang terdiri dari 6 tipe,yaitu: Tipe-tipe
1. (fraktur biasa pada kondilus tibia lateralis)ada pasien yang lebih muda,mungkin terdapat retakan vertical dengan pemisahan fragment tunggal.fraktur ini mungkin sebenarnya tidak bergeser,atau jelas sekali tertekan dan miring. Kalau retakannya lebar,fragmen yang lepas atau meniscus lateral dapat terjebak dalam celah.
2. (peremukan kominutif pada kondilus lateralis dengan depresi pada fragmen)Biasanya terjadi pada orang tua dengan osteoporosis.
3. (peremukan kominutif dengan fragment luar utuh)Mirip dengan tipe 2,tetapi segment tulang sebelah luar memberikan selembar permukaan sendi yang utuh.fragment yang tertekan dapat melesak ke dalam tulang subkondral.
4. (fraktur pada kondilus media)Terkadang akibat cedera berat,dengan perobekan ligament kolateral lateral.
5. (fraktur pada kedua kondilus)Dengan batang tibia yang melesak diantara keduanya.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas, kami dapat menarik kesimpulan antara lain :
1. Bahwa Belajar Merupakan Tindakan dan Perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri.
2. Motivasi adalah sebagai modal utama untuk belajar.
3. Belajar merupakan kunci kesuksesan yang akan membawa diri kita untuk mencapai cita-cita dan tanpa belajar kita akan menjadi orang yang terbelakang.
B. SARAN
Bagi para generasi muda penerus bangsa, agar supaya menanamkan dalam dirinya rasa nasionalisme yang tinggi dengan belajar yang tekun sebagai bentuk kegiatan dalam mengisi kemerdekaan agar kita tidak lagi mudah untuk dibohongi oleh bangsa negara lain karena pengetahuan yang minim.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar